Eksistensi Tim Parimbo semakin menjadi-jadi untuk mengawal kelestarian hutan dan isinya di nagari-nagari Sumatera Barat. Tim binaan Dinas Kehutanan Sumbar dan KKI Warsi itu kini dilengkapi ‘mata-mata suara’ (artificial intelligent).

“Alat Guardian itu kami pasang bersama KKI Warsi, dan Polisi Kehutanan di pohon ketinggian 50 meter. Berfungsi memberi tahu suara chainsaw, suara kendaraan dan tembakan senpi. Sejak alat itu di pasang di tiga titik koordinat di areal perhutanan sosial Nagari Sirukam, Kabupaten Solok, kami sudah beberapa kali menggagalkan aksi pembalakan liar (illegal logging),” ujar Jas dari Tim Parimbo, yang berbagi cerita di hadapan peserta workshop penguatan tatakelola pengamanan hutan berbasis teknologiartificial intelligent, di Hotel Pangeran Padang, Kamis (16/7/2020).

Meski Dinas Kehutanan Sumbar hanya mampu menganggarkan bantuan finansial Rp200 ribu per bulan, hal itu tidak menjadi halangan anggota Tim Parimbo melakukan patroli ke dalam hutan nagari.

“Patroli rutin memang sekali sebulan. Tapi, masyarakat kami banyak yang sayang dengan hutan. Merekalah yang sering memberitahu jika ada chainsaw meraung di tengah hutan. Misalnya laporan masuk hari Senin, maka Selasa baru kita bisa berangkat ke lokasi yang dilaporkan masyarakat. Pola informasi masyarakat itu juga kami jadikan acuan untuk patroli non-rutin,” ungkap Jas yang berperawakan kekar itu.

Nah sejak Guardian dipasang, Tim Parimbo semakin sering masuk hutan. “Pagi-pagi bangun tidur Guardin sudah memberi notifikasi adanya suara chainsaw ke handphone kami. Kami langsung berangkat, dan sampai di lokasi, aksi penebangan liar bisa dihentikan, kami juga langsung melapor ke Polhut dan aparat penegak hokum,” ujar Jas.

Manager Program KKI WARSI, Rainal Daus menjelaskan, saat sistem operasi Guardian telah membantu dan memudahkan tim Patroli LPHN di 6 Nagari untuk melakukan pemantauan secara real time serta mengefektifkan kinerja Tim Patroli LPHN dalam mengumpulkan barang bukti atas temuan lapangan berupa rekaman suara, foto temuan lapangan, serta titik koordinat lokasi temuan.

Perangkat yang membentuk Guardian terdiri dari sebuah ponsel yang sudah dimodifikasi dan panel surya sebagai sumber energi, yang kemudian di instalasi di atas pohon. Rekaman suara seluruh aktivitas di hutan dikirimkan kepada aplikasi yang sudah terinstal di smartphone para ranger (pengaman hutan/tim patroli LPHN).

“Meski memakan biaya cukup besar, ke depan penggunaan Guardian akan diperbanyak pada nagari-nagari lain yang juga sedang mengelola hutan nagarinya,” ujar Rainal Daus.

Kepala Dishut Sumbar Yozawardi mengatakan luas hutan yang pengelolaannya di tangan provinsi 1,5 juta hektare, sepertiganya, 500 ribu hektare sudah dikelola oleh nagari (perhutanan sosial).

“Tim Parimbo inilah yang menjadi ujung tombak kita mengawasi pembalakan liar. Dan kami terbantu sekali karena Tim Parimbo sudah mampu mengawasi areal perhutanan sosial seluas 217 ribu hektare,” ujar Yozawardi.

Jika masih terdapat kendala seperti komunikasi dan koordinasi yang belum bagus selama ini, nantinya diperbaiki dengan membuat SOP. “Standard operational Procedure inilah yang sedang kita rancang bersama-sama dalam workshop pada hari ini. Salah satu implementasinya adalah membangun mekanisme patroli bersama antara tim patroli LPHN dan Polisi Kehutanan di masing-masing UPTD KPHL di Sumatra Barat. Kami dari Dinas Kehutanan memastikan SOP itu nantinya berjalan dengan baik,” ujar Yozawardi. (hsn)

The post Sejak Ada Guardian, Tim Parimbo Bersemangat Menjaga Hutan Nagari appeared first on Padek.co.