Herman Onesimus Lantang lahir pada 2 Juli 1940 di Tomohon, Sulawesi Utara. Ayah Herman mantan serdadu KNIL. Waktu kecil, ia sekolah di Europe Lager School (ELS), menjelang Perang Dunia II, di kota kelahirannya sekolah warisan kolonial itu masih ada, termasuk yang di bawah Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).

Tak heran jika orang Minahasa sejak lama sangat peduli pada pendidikan. Kemampuan Herman dalam berbahasa Belanda belakangan membuat terpana kawan-kawannya. Sejak 1957 Herman bersekolah di SMA 1 Budi Utomo, Jakarta. Saat Permesta pecah di Sulawesi Utara, ia tak bisa jadi kombatan seperti Jopie Lasut, kawannya.

Maka itu, Herman bisa lulus SMA dan masuk Universitas Indonesia (UI) Jurusan Antropologi pada 1960. Di Fakultas Sastra UI, Herman berkenalan dengan Soe Hok Gie. Mereka biasa naik gunung dan tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Prajnaparamita Universitas Indonesia, yang ikut didirikannya pada 1964.

Nomor urut Gie 7 dan Herman 16. Jelang peristiwa G30S, Herman menjadi Ketua Senat Mahasiswa Sastra UI, padahal organisasi mahasiswa dalam kampus kala itu dikuasai oleh organisasi mahasiswa yang terkait dengan partai politik. “Bayangkan saja, pada masa organisasi ekstra menguasai kehidupan mahasiswa, Herman bisa menang mutlak,” tulis Rudy Badil dalam Soe Hok Gie: Sekali Lagi (2010:191).

Herman bukan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bukan pula anggota Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) atau Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Naiknya Herman sebagai ketua senat, menurut Badil, adalah gagasan dari Soe Hok Gie dan Parsudi Suparlan. Herman mengaku, ketika dia memimpin senat, Gie menjadi think thank-nya.

Kala itu, organisasi ekstra kerap menekankan perpolitikan ke dalam kampus. Maka itu, Gie dan Herman membuat kelompok tandingan, yakni penggemar mendaki gunung. Menurut Badil, pengikutnya cukup banyak. Saat masih menjadi ketua senat, sekitar bulan Januari 1966, datang surat dari Menteri Koordinator Pendidikan dan Kebudayaan Profesor Prijono, yang isinya meminta agar Fakultas Sastra UI mengirimkan 20 orang mahasiswi untuk menonton wayang di Istana.

Herman dan Gie amat tersinggung atas undangan tersebut karena Fakultas Sastra UI seolah “tempat supply wanita” untuk istana. “Herman rupa-rupanya sangat tersinggung dengan cara ini. Dia katakan padaku bahwa apapun yang terjadi tidak akan menggunakan ‘wewenangnya’ untuk memenuhi permintaan ini,” tulis Gie dalam Catatan Seorang Demonstran (1983:162).
Herman tidak takut dengan langkahnya itu. Dan para mahasiswi yang diundang pun akhirnya tidak ada yang mau datang. Menteri marah, namun saat dipanggil, dia dan Soe Hok Gie tengah berada di tempat lain. Akhirnya kawan perempuan mereka yang datang menemui menteri dan dimarahi. Kawannya itu memberikan alasan bahwa saat itu bulan puasa hingga tak ada yang bisa hadir.

Mendaki Semeru

Herman menjadi Ketua Senat Fakultas Sastra UI hingga 1966, tahun ketika kekuasaan Presiden Sukarno mulai melemah. Tahun berikutnya, Herman berada di Lembah Baliem, Irian Jaya (sekarang Papua), selama sektiar dua tahun dalam rangka penelitian skripsinya. Kala itu, Soe Hok Gie, seperti dicatat Tempo (10/10/2016), pernah berkirim surat kepadanya.
Tahun 1969, Herman Lantang kembali ke Jakarta. Pada Desember tahun tersebut, Herman, Gie, dan kawan-kawannya yang lain mendaki Gunung Semeru. Soe Hok Gie dan Aristides Katoppo sempat membaca buku kecil milik Herman soal pendakian Gunung Semeru, yang berjudul Gids voor Bertochten op Java (1930) karangan Dr Stehn. “Menurut Herman Lantang, saat itu dia juga membekali tim dengan buku tambahan Bergenweelde (1928) karangan CW Wormster,” ungkap Rudi Badil. Peta lawas dari buku berbahasa Belanda tersebut jadi acuan.

Sore hari, biasanya tim pendaki Semeru itu berkumpul dan mendengar “kuliah” Herman serta Aristides yang kadang menyelipkan kata-kata dalam bahasa Belanda. Seiring waktu, mereka pun akhirnya berangkat ke Jawa Timur. Dalam perjalanan, seperti dicatat Rudi Badil dalam dalam Soe Hok Gie: Sekali Lagi (2010:13), tim sempat terpecah menjadi dua, yakni kelompok Soe Hok Gie dan kelompok Herman Lantang. Gie disebut Cina Kecil dan Herman disebut Jenderal Batu.
Mereka sempat berkemah di Ranu Kumbolo. Sehari sebelum hari ulang tahun Gie yang jatuh pada 16 Desember 1969, puncak Mahameru sudah mereka capai. Namun, hari itu nahas bagi Gie dan Idhan Lubis—keponakan Mochtar Lubis. Mereka menghirup gas beracun. Idhan dan Gie kala itu bersama Freddy Lasut dan Herman Lantang.

Keduanya kemudian turun ke perkemahan untuk memberi tahu kawan-kawannya yang lain. “Hok Gie dan Idhan so (sudah) meninggal. Mereka tiba-tiba kejang-kejang dan kemudian tidak bergerak,” kata Herman seperti diingat Rudi Badil.
Anggota tim kaget. Mulanya mereka berharap Herman sedang ngaco. Kemudian tim berbagi tugas, yang turun untuk melapor soal Gie dan Idhan adalah Aristides dan Wijana alias Wiwiek, sementara yang lainnya menjaga Maman yang tengah sakit. Herman menurunkan jenazah Gie dan Idhan ke Recopodo. Saat itu, Rudi Badil mencium bau tak sedap dari Herman, lalu menyuruhnya membuka celana. Herman pun melepas celana gaul zaman itu, merek Lee, yang ternyata milik Gie. Ada luka bernanah pada pantat Herman.

Obat serbuk sulfanilamit pun diberikan kepadanya. Ketika menunggu bantuan dari bawah untuk menggotong Gie dan Idhan, seingat Rudi, Herman kerap berdoa. Mereka yakin bantuan yang diusahakan Wiwiek dan Aristides akan datang. Setelah empat hari, bantuan dari orang kampung yang dipimpin Mulyadi–guru SD di Gubug Klakah–akhirnya datang. Namun jenazah Gie dan Idhan tak bisa segera diturunkan.

Berhari-hari kemudian barulah jenazah Gie dan Idhan akhirnya bisa turun. Setelah masa-masa itu, Herman Lantang kemudian bekerja di perusahaan pengeboran minyak asing. Di masa tuanya, kerabat mantan Gubernur Jakarta Henk Ngantung ini masih terus mendekatkan diri dengan alam. Dia mengelola tempat perkemahan Herman Lantang Camp di Bogor. Herman Lantang akhirnya menyusul Soe Hok Gie dan Idhan Loebis pada Senin, 22 Maret 2021

sumber : tirto.id

tulisan belum diramu

dari kompas.com
Herman Lantang adalah mantan mahasiswa jurusan Antropologi di FSUI dan juga mantan ketua senat Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 60 an. Herman Lantang juga salah satu pendiri Mapala UI dan pernah menjabat sebagai ketuanya pada tahun 1972 – 1974. Herman Lantang adalah sahabat dari Soe Hoek Gie yang pernah menjadi inspirator gerakan demo long march mahasiswa UI untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno pasca G30 S dan semasaTritura.

Sampai sebelum film biografi “GIE” muncul di layar perak, tak banyak orang yang menggubris kehadiran tokoh yang satu ini, kecuali, lagi – lagi, komunitas pencinta alam, yang sangat mengagungkan sikapnya yang tetap rendah hati.

Sebenarnya, pria tua yang kini lebih banyak menghabiskan sisa hidupnya di rumah, dilahirkan di sudut kota kecil Tomohon, sebuah kota administrasi di provinsi Sulawesi Utara, 67 tahun silam. Dalam buku baptisnya ia diberi nama: Herman Onesimus Lantang. Kegemarannya terhadap alam pun mulai timbul ketika ayahnya yang saat itu berprofesi sebagai tentara sering mengajaknya keluar – masuk hutan di kawasan Tomohon untuk berburu. Dari situ, lambat laut, kecintaannya terhadap hutan yang sarat aroma sarasah dan petualangan timbul.

Lalu, setelah tamat dari Europrrshe Lagere School SR GMIM4 ( setaraf SD ), Herman kecil melanjutkan ke SMPK Tomohon. Herman mulai hijrah ke ibukota bersama orangtuanya yang saat itu di pindahtugaskan ke daerah baru. Kemudian di Jakarta inilah ia melanjutkan kembali pendidikan formalnya, ketika di terima di SMA 1 ( Budi Utomo ) pada tahun 1957.

Tak puas sampai disitu, Herman mulai melirik perguruan tinggi yang menurutnya akan memberikan sistem pendidikan terbaik. Saat itu, di tahun 1960, melalui segudang test yang cukup rumit, ia pun berhasil di terima di Fak. Sastra Universitas Indonesia, JurusanAnthropologi yang banyak berkutat dengan kebudayaan dan perilaku manusia sejak mulanya. Melalui jurusan ini pula ia sempat melakukan penelitian mendalam terhadap perilaku suku terasing Dhani di Papua pada tahun 1972, yang mengantarkannya mencapai gelar sarjana penuh.

Selama menjadi mahasiswa, pribadi yang tangguh dengan idiologi sosialisnya mulai terbentuk. Melihat banyak rekan – rekan seangkatannya yang lebih memilih jalur politik praktis untuk mencapai kemapanan. Ia dan rekan lainnya malah memilih alam sebagai media pengembangan diri. Menurutnya, hanya di alam kita bisa mengenal karakter masing – masing yang sebenarnya. Tak ada yang tersembunyi. Di alam pula kita bisa memupuk rasa solidaritas dan kecintaan terhadap ciptaan Tuhan yang bisa dinikmati.

“Politik tai kucing”, Begitu tutur Herman Lantang, sahabat Soe Hok Gie ketika senat mahasiswa tidak menjadi sesuatu seperti harapan Soe serta kawan – kawannya yang lebih memilih menikmati film dan naik gunung bukan serta – merta mengidentifikasi dirinya dalam organisasi mahasiswa tertentu di dalam kampus. Dalam jurnal harian Soe yang kemudian dibukukan dan dicetak oleh LP3ES “Catatan Seorang Demonstran”, Gie juga menulis bahwa politik itu kotor.

Kemudian, ketika tak lagi berkegiatan di dalam kampus, jiwa petualangan pula yang membuat Herman bisa di terima di beberapa perusahaan pengeboran minyak ternama, seperti: Oil Field all part of Indonesia, East Malaysia Egypt dan Australia East Texas USA. Di perusahaan tersebut ia lebih terkenal sebagai Mud Doctor, yang menangani masalah lumpur – lumpur dalam pengeboran minyak bumi. Sebuah pekerjaan yang memang sangat jauh dari disiplin ilmu yang dulunya hanya Fakultas Sastra. Namun untuk profesi barunya itu, ia tidak main – main. Herman bahkan sempat mengecam pendidikan singkat di Houston Texas pada tahun 1974 mengambil studi tentang “Mud School”.

Kini, Herman O Lantang, sahabat tokoh pergerakan mahasiswa 1960 – an Soe Hoek Gie, sudah pensiun bekerja dari perusahaan minyak. Pria uzur yang ternyata sangat suka wisata kuliner ini memendam bakat dalam memasak. Sehingga jangan heran, ketika berkegiatan di alam bebas, hasil masakan bang Herman, pasti langsung habis dilahap.

Kecintaannya terhadap dunia boga ini pula yang membuatnya banting stir menjadi pengusaha toko kue sejak dua tahun silam. Dengan modal ala kadarnya, rumahnya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan pun disulap menjadi toko kue “Kelapa Tiga Taart Tempo Doeloe”, yang menjual aneka panganan kue – kue klasik yang menurutnya agak susah ditemukan di Jakarta.

Si pemilik nomor anggota Mapala UI ( Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia ) M 016 UI, yang juga mantan ketua Mapala UI ( 1972-1974 ), ini lebih banyak berkutat dengan ide – ide pembuatan kue istimewa, selain menjadi pembicara di seminar – seminar yang berhubungan dengan kegiatan alam bebas.

Didampingi oleh satu dari tiga anaknya, ia memasak sendiri kue – kue itu. Herman mengaku memiliki banyak buku resep kue klasik Belanda, sebut saja oentbijkoek dan klappertaart. Selain itu, ia juga punya tante yang jago masak kue Belanda. Biasanya di suatu kesempatan sang tante akan menularkan kemampuannya memasak kepada keluarga yang lain.

Bersama sahabatnya, Soe Hok Gie, dia juga menjadi inspirator gerakan demo long march mahasiswa UI untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno pasca G 30 S dan semasa Tritura.

Ia (Herman) pernah menjabat sebagai ketua Mapala UI pada periode 1972-1974,” ujar Kepala Biro Humas dan KIP UI Amelita Lusia dalam keterangan tertulis, Senin malam. Amelita mengatakan, Herman Lantang merupakan alumni jurusan Antropologi, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) UI. Ia terdaftar sebagai angkatan 1960. “Herman Lantang pernah menjadi ketua Senat FS UI atas dorongan Soe Hok Gie,” ujar Amelita.

Selama hidup, ia menyelesaikan tugas akhir dengan etnografi partisipatoris total terhadap Suku Dani di Papua. Ia bermukim cukup lama di Lembah Baliem, Wamena, di tengah-tengah suku terpencil itu. Ia pun menginisiasi dan terlibat penuh dalam ekspedisi Mapala UI ke Gunung Carstensz, Papua. Herman Lantang, mantan aktivis di zaman Soekarno, lahir di Tomohon, Sulawesi Utara, pada 2 Juli 1940. Pada 1957, Herman Lantang ikut bersama orangtuanya yang pindah bertugas di Jakarta dan melanjutkan pendidikan formalnya di SMA 1 Jakarta (Boedi Oetomo). “Usai menyelesaikan studi di UI, Herman diterima di beberapa perusahaan pengeboran minyak ternama, seperti Oil Field all part of Indonesia, East Malaysia Egypt, dan Australia East Texas USA,” ujar Amelita.

Herman Lantang juga mengeyam pendidikan di Houston, Texas, pada 1974, mengambil studi tentang Mud School. Sebelumnya, Herman O Lantang tinggal di rumah anaknya, Cernan Lantang, di Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat. Herman meninggal di RSUD Tangerang Selatan, Banten. Berpulangnya Herman Lantang membawa duka bagi dunia pencinta alam