TWKM

Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) merupakan kegiatan pertemuan akbar antar Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) tingkat universitas. Agenda rutin yang dilaksanakan tiap setahun sekali ini dilaksanakan untuk mempertemukan antar anggota Mapala se-Nusantara baik itu dari perguruan tinggi negeri maupun swasta. TWKM sendiri merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan dalam satu waktu yakni temu wicara dan kenal medan.

Temu wicara (TW) merupakan pertemuan yang diikuti oleh setiap anggota Mapala untuk melakukan pembahasan dan pemecahan masalah yang sudah, sedang dan akan terjadi terkait dengan permasalahan lingkungan hidup. Temu wicara sendiri berlangsung mirip seperti sebuah kongres, mukhtamar atau siding. Hal ini dikarenakan pertemuan tersebut membahas tentang organisasi, alam dan lingkungan.

Sedangkan kenal medan (KM) adalah kegiatan berbentuk pengenalan alam sekitar oleh organisasi kepencinta alaman sebagai penyelenggara. Bentuk kegiatannya seperti jelajah hutan rimba, pendakian gunung (mountainering), penyelusuran gua (caving), pemanjatan tebing (rock climbing), penyelaman (diving), dan arung jeram (rafting).

Daftar Tuan Rumah TWKM
– TWKM XXX ke-30 Tahun 2018 : Universitas Bung Hatta Padang
– TWKM ke-29 – 2017 di Marhaenis Pecinta Alam (Marpala) Universitas Bung Karno (UBK)
– TWKM ke-28 Tahun 2016 : Mapala UMI, Makasar
– TWKM ke-27 Tahun 2017 : Kerawang
– TWKM ke-15 Tahun 2003. Mapatala Universitas Tadulako Palu Sulteng

Sejarah TWKM

Kegiatan Temu Wicara dan Kenal Medan berawal dari kegiatan kemah bakti atau bisa juga disebut camping ceria Mapala Se-Jawa-Bali pada tahun 1987 yang diadakan oleh MPL Unsoed.

Dikutip dari blog sumber : http://jelajahalambebas.blogspot.co.id/2011/07/sejarah-twkm.html disebutkan saat itu saat itu ada serasehan yang dihadiri juga oleh perwakilah Bidang Kemahasiwaan Dikti. Disana Beliau menceritakan adanya anggaran untuk kemahasiswaan yang bisa untuk membuat suatu kegiatan berskala nasional. Beliau menantang Mapala yang hadir untuk membuat suatu kegiatan berskala nasional.
Tantangan itu akhirnya dijawab dengan pelaksanaan TWKM (temu wicara Kenal Medan). Konsep pertama TWKM dicetuskan oleh Zamri Khusaini dan juga Budi Tri Siwanto dengan ketua pelaksana Lik Memed. (Semua merupakan anggota Madawirna ). Akhirnya TWKM dilaksanakan di Madawirna IKIP Yogyakarta pada tahun 1988.
Konsep pertama TWKM adalah Mahasiswa Pencinta alam seluruh Indonesia dikumpulkan dan berbagi pikiran. Pertama peserta melakukan Temu wicara dahulu untuk membicarakan peran mapala di dalam dinamika kehidupan kampus. Setelah Temu Wicara ( TW ) kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Kenal Medan ( KM ) yang dilakukan dengan pendakian Gunung Merapi.
Permasalahan intern organsasi juga dibicarakan disini dan topik yang sering dibahas adalah peran Mahasiswa Pecinta Alam terhadap lingkungan. Dari kegiatan ini diharapkan, MAPALA bisa dijadikan sebagai organisasi percontohan bagi organisasi intra kampus lainnya. Konsep ini berjalan sampai dengan pelaksanaan TWKM ke empat.
Untuk penyelanggara kedua TWKM adalah dari MAHACITA IKIP Bandung (sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia) pada tahun 1989. Sebagai organisasi intra kampus yang berlatar belakang hobi , minat, serta bakat yang berorientasi pada kegiatan berprtualangan, maka pada pelaksanaan kegiatan TWKM II ini kemudian diselipkan kegiatan latihan bersamadi tebing Citatah (panjat tebing), pendakian gunung, dan penelususran gua.
Pada tahun-tahun berikutnya TWKM menjadi agenda tetap sebagai sebuah forum media komunikasi Mapala Se-Indonesia setinggkat Universitas atau Perguruan Tinggi. Pelaksanaan TWKM pertama (1) sampai TWKM ke empat (IV) merupakan pertemuan yang belum memisahkan kegiatan dengan Kenal Medan. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan kegiatan forum selesai barulah kegiatan Kenal Medan dilaksanakan.
Pada pelaksanaan TWKM (V) tahun 1992 yang dilaksanakan di Makassar dengan tuan rumah KORPALA UNHAS, barulah dibuat aturan baru yang menyangkut TWKM yaitu memisahkan antara kegiatan temu wicara dan kenal medan. Tujuan dari pemisahan forum Temu Wicara dan Kenal Medan yang diadakan di Makassar yaitu diharapkan agar para top senior Mapala lebih kosentrasi membahas permasalahan bangsa pada saat itu. Karena kondisi dan suasana politik tanah air saat itu sedang tidak stabil sehingga solusi untuk Negara biar tercipta dari kegiatan Temu Wicara.

 



This entry was posted in EVENTURE and tagged . Bookmark the permalink.

Comments are closed.